BERITAKELEMBAGAAN

Family Gathering YAPIS: Melepas Lelah, Membasuh Hati, Menenun Kolaborasi

Jayapura (30/1) – Debur ombak Pantai Hamadi pagi itu, kalah riuh oleh gelak tawa ratusan orang yang memadati pesisir ikonik Kota Jayapura tersebut. Sejenak, seragam dinas yang rapi dan tumpukan administrasi dan tugas lainnya ditinggalkan di meja kantor. Hari itu, jati diri mereka bukan sekadar pengelola yayasan, dosen, atau guru, melainkan satu keluarga besar: Keluarga Besar Yayasan Pendidikan Islam (Yapis) di Tanah Papua.

Sejak pukul 09.00 WIT, suasana sudah menghangat. Ratusan peserta yang terdiri dari pengurus Yapis Pusat, Yapis Cabang Kota Jayapura, civitas akademika Universitas Yapis Papua (Uniyap), hingga perwakilan dari 21 sekolah dan UPT di lingkungan Kota Jayapura hadir bersama anak dan istri atau suami mereka.

Syiar di Balik Tawa: Menyambut Ramadan dengan Hati Suci

Kegiatan dibuka secara resmi oleh Sekretaris Umum Yapis Pusat di Tanah Papua, H. Heri Wahyudianto, SE., MM. Dalam arahannya yang santai namun sarat makna, dirinya menekankan bahwa pertemuan ini adalah ritual “pembersihan diri” sebelum memasuki bulan suci Ramadan 1447 H.

“Kegiatan ini kita laksanakan untuk memperkuat ukhuwah, meningkatkan silaturahmi, serta saling memaafkan guna menyongsong bulan suci Ramadan,” ungkapnya dengan nada penuh semangat.

Heri juga memberikan instruksi khusus yang unik: semua peserta wajib membuang rasa malu dan dilarang berkelompok hanya dengan rekan satu sekolahnya.

“Intinya hari ini kita sucikan diri dan bersenang-senang. Lepaskan kepenatan” tambahnya, disambut tepuk tangan meriah.

Permainan yang Bermakna: Fokus dan Kolaborasi

Selepas pembukaan, Heri Wahyudianto sendiri yang turun tangan memandu berbagai permainan. Namun, ini bukan sekadar bermain. Setiap permainan dirancang untuk mengasah kapasitas diri dan organisasi.

Dalam permainan “Simon Says” yang dimodifikasi dengan kearifan lokal, serta gim “Kelipatan 5” dan “Marina-Marijo Menari”, para peserta ditantang untuk menjaga konsentrasi tingkat tinggi—sebuah metafora bagi ketelitian yang dibutuhkan dalam mengelola pendidikan.

Di sisi lain, permainan seperti “Ojek”, menjadi ajang pembuktian betapa pentingnya kolaborasi. Di sini, seorang Rektor seperti Dr. Ir. Didik S. S. Maibui, ST., MT., dan Ketua Yapis Cabang Kota Jayapura, Drs. H. Hadiyana, MM., berbaur tanpa sekat bersama para operator sekolah, satpam hingga tenaga kebersihan.

“Momentum ini kita harap dapat membuat seluruh anggota keluarga besar Yapis dapat lebih mengenal dan akrab, lintas sekolah dan unit kerja,” ujar Hadiyana di sela-sela kegiatan.

Simpul Kekuatan di Enam Provinsi

Bagi Yapis, kolaborasi bukan sekadar kata hiasan. Sebagai organisasi pendidikan Islam terbesar di Tanah Papua, Yapis memikul tanggung jawab besar yang tersebar dari ujung barat hingga timur.

Melansir data dari laman resmi yapispapua.org, jejaring Yapis kini telah mengakar kuat di seluruh pelosok Bumi Cenderawasih. Mulai dari Provinsi Papua, Papua Tengah, Papua Selatan, Papua Pegunungan, hingga Papua Barat dan Papua Barat Daya. 25 cabang di kabupaten/kota berdiri sebagai pilar peradaban. Dengan 125 UPT sekolah mulai dari tingkat PAUD hingga Sekolah Menengah Atas, serta perguruan tinggi yang mumpuni, kolaborasi antar-unit menjadi kunci utama. Jika kolaborasi di Pantai Hamadi hari ini bisa berjalan harmonis, maka kerja-kerja besar di enam provinsi pun diyakini akan lebih ringan dilakukan.

Kebahagiaan Keluarga dan Jamuan Ukhuwah

Keceriaan tidak hanya milik orang dewasa. Anak-anak peserta gathering juga asyik dengan lomba khas seperti makan kerupuk yang mengundang tawa. Sementara para orang tua beradu tenaga dalam tarik tambang dan adu kekompakan dalam joget balon.

Semangat peserta kian terpacu dengan limpahan doorprize menarik yang disiapkan secara gotong royong oleh Yapis Pusat, Yapis Cabang, dan Uniyap. Tak ada yang pulang dengan hati kosong; jika tidak membawa hadiah fisik, mereka membawa pulang kenangan dan kelapangan hati.

Acara pun ditutup dengan tradisi yang paling hangat: bersalam-salaman dan makan bersama. Bersalaman sebagai symbol saling melepaskan kesalahan, saling memafkan dan saling mendukung. Sementara makan bersama sebagai wujud kekompakan dan kekeluargaan. Setiap orang bebas menikmati menu yang disediakan, tanpa pengkotak-kotakan.

Jamuan yang disiapkan secara sukarela oleh seluruh pihak ini dinikmati bersama di bawah pohon-pohon ketapang pantai. Di sana, di antara aroma ikan bakar dan sambal, sebuah pesan kuat tersampaikan: bahwa Yapis di Tanah Papua bukan hanya sebuah yayasan, melainkan sebuah rumah besar bagi perjuangan dan persaudaraan.

Atraksi tarian pergaulan di tanah Papua, Yosim Pancar (Yospan) menjadi bagian akhir dari kegiatan. Keseragaman gerak dalam irama yang serasi, disambut dengan bergandengan tangan kian megaskan kekompakan, keakraban dan kekeluargaan. Spirit utama dalam pergerakan ikhtiar YAPIS menjadi Rahmatan Lil Alamin*

(Tam)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *