Peringatan Isra Mi’raj: Ikhtiar Mewujudkan Pendidikan Berkarakter

Jayapura (24/1) – Alunan selawat yang dibawakan dengan penuh khidmat oleh tim Hadrah SMP Hikmah Yapis menggema di Aula H. Daud Samsudin Ponto, Universitas Yapis Papua (UNIYAP), Sabtu (24/1/2026). Suasana sejuk dan penuh kekeluargaan menyelimuti peringatan Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW 1447 H, sebuah momentum yang lebih dari sekadar seremoni bagi keluarga besar Yayasan Pendidikan Islam (Yapis) di Tanah Papua.
Acara ini merupakan wujud sinergi harmonis antara Yapis Pusat di Tanah Papua, Universitas Yapis Papua, dan Yapis Cabang Kota Jayapura. Mengusung tema “Isra Mikraj sebagai Landasan Spiritual dalam Mewujudkan Pendidikan Berkarakter”, kegiatan ini menegaskan kembali posisi Yapis sebagai pilar pendidikan yang kokoh di Bumi Cenderawasih.
Kesucian Niat dan Iman yang Berpadu Ilmu

Dalam sambutan Ketua Umum Yapis Pusat di Tanah Papua, Dr. Drs. Muh. Musa’ad, M.Si, yang disampaikan oleh Sekretaris Umum, Heri Wahyudianto, SE, MM, ditekankan bahwa peristiwa Isra Mikraj membawa “oleh-oleh” utama berupa salat.
”Salat adalah tiang agama. Ini mengajarkan kita bahwa ilmu pengetahuan setinggi apa pun harus berjalan seiring dengan iman. Guru tidak hanya bertanggung jawab mentransformasi ilmu, tetapi juga menjadi arsitek spiritual dan karakter peserta didik,” ujar Heri Wahyudianto di hadapan ratusan civitas akademika dan tenaga kependidikan.
Visi besar ini bermuara pada komitmen Yapis untuk menjadi lembaga yang Rahmatan Lil Alamin. Di tanah Papua yang majemuk, Yapis berdiri sebagai oase yang memberikan manfaat bagi seluruh manusia, alam, dan makhluk tanpa memandang suku, agama, ras, maupun golongan. Sebuah dedikasi untuk kemanusiaan yang inklusif.
Melampaui Logika, Menuju Kesucian

Sementara itu, penceramah Dr. H. Muhammad Abdul Mukti, S.Ag, M.A, dalam tausiyahnya mengajak audiens membedah makna di balik ayat pertama Surah Al-Isra:
”Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha…”
”Mengapa diawali dengan kata Subhanallah? Karena Isra Mikraj secara logika manusia adalah ketidakmungkinan. Ini adalah ujian keimanan,” urai Dr. Abdul Mukti.
Ia menghubungkan proses perjalanan suci tersebut dengan filosofi pendidikan di Yapis yang harus dimulai dari tiga hal fundamental:
Kesucian: Menjaga kesucian niat, pikiran, dan perbuatan dalam mendidik.
Pelaksanaan: Memulai pendidikan dari hal-hal kecil, konkret, dan paling dekat dengan lingkungan (seperti pembiasaan ayat-ayat thoyibah) serta pembiasaan.
“Ini adalah kunci pembentukan karakter. Pembiasaan hal-hal kecil seperti yang sudah berjalan selama ini di satuan-satuan pendidikan Yapis” ungkapnya.
Ditambahkan ustad Mukti, proses selanjutnya adalah penerapan yaitu Memastikan ilmu pengetahuan diaplikasikan untuk kemaslahatan masyarakat, bangsa, dan negara.
Lebih dari Sekadar Pendidikan: Sebuah Keluarga









Kehangatan acara memuncak saat sesi doa dan makan bersama, sebuah tradisi yang mempererat tali silaturahmi antar pengurus pusat, cabang, hingga staf di lapangan.
Menariknya, di luar agenda utama, Yapis Cabang Kota Jayapura yang dipimpin oleh Drs. H. Hadiyana, MM, juga memanfaatkan momentum ini untuk menggelar pertemuan bulanan rutin.
Forum santai ini menjadi wadah diskusi bagi para pendidik untuk saling bertukar ide demi pengembangan sekolah dan peningkatan mutu pendidikan di bawah naungan Yapis.
Peringatan Isra Mi’raj tahun ini menjadi pengingat bagi seluruh keluarga besar Yapis untuk tetap Istiqomah. Di tengah tantangan zaman, Yapis di Tanah Papua terus melaju, membawa misi suci: mencetak generasi berkarakter yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tapi juga teduh secara spiritual.
(Tam)
